Akhir-akhir ini
dunia social media sedang ramai membicarakan tentang taman bunga Amaryllis di
Yogyakarta. Disamping karena keindahannya, fenomena yang sedang ramai
dibicarakan juga tentang ulah beberapa oknum yang merusak taman bunga tersebut
hanya untuk kepentingan selfie dan diupload ke sosmed. Para netizen
menyayangkan taman bunga yang katanya hanya mekar setahun sekali itu rusak cuma
gara-gara buat selfie. Udah gitu oknum-oknum tersangkanya seakan merasa masa
bodoh atau malah membela diri karena disini mereka udah bayar untuk masuk. Dan
akibatnya mereka dibully habis-habisan di social media. Ada yang berupa kritik
halus, sarcasm, bahkan dibuat meme. Terakhir kali gue cek, salah satu akun
mereka udah hilang dari peredaran. Mungkin malu. Mungkin juga beban bully yang
mereka terima terlalu berat sehingga mereka nggak sanggup untuk menanggungnya.
Nah disini gue
mau bahas tentang social media. Ada banyak jenis social media sekarang ini.
Dari jamannya friendster, facebook, twitter, instagram, path, snapchat,
periscope, dan masih banyak lagi yang lainnya. Mungkin kalo orang yang kelewat
gaul bakalan punya semua akun di sosmed-sosmed itu. Tapi gue sering mikir,
mungkin nggak sih kalian ngecek semua akun sosmed kalian setiap hari? Social
media sebenarnya dirancang untuk menyatukan yang jauh, berbagi informasi, mencari
kenalan baru, cari gebetan, atau hanya sekedar ajang kumpul suatu komunitas.
Tapi dalam perkembangannya, sosmed sering digunakan untuk hal lain yang bersifat
negative. Ada yang buat ajang pamer, buat penipuan, propaganda, menyebar
kebencian, cari selingkuhan, bahkan ada yang buat sarana penculikan. Buat yang
nggak hati-hati, dunia sosmed itu sebenarnya kejam. Salah posting dikit,
siap-siap aja dibully. Bahkan cuma gara-gara typo, bencana bisa datang.
Contohnya mau
posting :
“Pak guru tahu
kalo gue lagi marah”
Nah, karena
huruf “u” dan “i” itu deket, malah jadi ngetik :
“Pak guru tahi
kalo gue lagi marah”
Dan pagi harinya
lo udah dikeluarkan dari sekolah. Kejam? Memang.
Selain itu
banyak berita hoax yang beredar di sosmed. Kadang kita asal share aja kalo ada
berita yang kira-kira judulnya provokatif tanpa cek dulu kebenarannya. Padahal
mungkin berita-berita itu cuma buat menyudutkan suatu pihak, buat naikin rating
web, atau malah cuma bahan becandaan. Tapi kadang kita cuma baca judulnya aja
udah emosi, trus main share, ujung-ujungnya ada pihak yang nggak tau apa-apa
jadi sasaran kemarahan publik. Kejam? Ya. Mau tau contohnya? Banyak banget tuh kalo
pas musim pemilu atau kalo pas ada kejadian yang menyangkut SARA. Berita hoax
akan dengan cepat menyebar dan menimbulkan banyak kebencian. Apa sebegitu
bodohnya kita sampe nggak mau ngecek kebenarannya dulu dan langsung asal share?
Ayolah, tunjukin kalo lo cerdas. Jangan asal sebar berita yang belum tentu
benar.
Ada banyak
kekejaman lain dari sosmed. Lo jomblo? Kekejaman akan semakin menjadi. Liat aja
di fanpage-fanpage meme, banyak banget jomblo yang dibully hanya karena “kejombloannya”.
Emang sih cuma buat becandaan, tapi kenapa selalu jomblo yang dibully? Sehina
itukah jomblo? Hiks.. Sorry, gue terbawa suasana. Ada hal yang lebih kejam
lagi. Saat lo lagi stalking akun sosmed mantan dan dia udah punya pasangan
baru. Ini bener-bener kejam. Hiks..
Oke, kembali ke topik
semula. Setelah kalian semua tau betapa kejamnya social media, gue saranin
kalian lebih hati-hati deh kalo mau posting atau share sesuatu. Pastikan itu
nggak menyakiti orang lain atau merugikan diri sendiri kedepannya. Ingat, jadikan
social media untuk menyatukan kita, bukan untuk mencerai-beraikan kita. Salam
super sodara-sodara..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar