Beberapa waktu lalu seorang temen gue mampir ke sebuah rumah makan soto. Saat hampir sampai tempatnya, dari kejauhan ada tukang parkir yang langsung membantu menyeberangkan mobilnya karena kebetulan rumah makan itu ada di sebelah kanan jalan. Sang tukang parkir dengan sigap memberhentikan kendaraan dari arah berlawanan sehingga mobil temen gue bisa menyeberang dengan lancar kemudian membantu parkir hingga posisi yang nyaman dan tidak mengganggu kendaraan lain. Saat sedang makan soto, sesekali temen gue melihat ke arah mobilnya, kali-kali aja berubah jadi Ferari atau Lamborgini. Tapi apa yang dia lihat? Dia melihat tukang parkir itu mengelap kaca mobilnya yang udah berdebu tebal kayak bedaknya cabe-cabean, hingga bersih mengkilap. Bahkan beberapa kali juga membersihkan kap mobil dari daun-daun yang berjatuhan dari pohon yang ada di depan rumah makan itu.
![]() |
| Tukang parkir gahool.. |
Sekarang kita bandingkan dengan beberapa tukang parkir yang seakan cuek buat ngebantu kita saat parkir. Tidak peduli kita mau nyebrang atau saat kita repot ngeluarin kendaraan dari parkiran. Bahkan kadang ada juga yang pas kita dateng ngga ada, tapi tiba-tiba nongol pas kita mau pergi. Tukang parkir kayak gitu ADA!! Dan itu bukan hanya mitos. Untuk tukang parkir kayak gitu kadang kita ngasih duit seribu aja pasti ada rasa nggak ikhlas.
Dari kedua contoh diatas kita bisa lihat bahwa tukang parkir tipa pertama mengerjakan lebih dari apa yang seharusnya dia kerjakan. Walau hanya hal kecil, yang dia lakukan secara tidak langsung memberi nilai tambah pada dirinya. Orang yang diperlakukan seperti itu pasti juga akan senang, contohnya temen gue tadi. Tanpa diminta pun temen gue dengan ikhlas ngasih bonus lebih. Sebenernya hal itu sama saja jika kita terapkan dalam kehidupan kita. Contohnya banyak karyawan yang nggak hanya fokus kerja kantoran tapi juga punya sampingan lain sebagai nilai tambah. Dengan begitu penghasilan yang didapat juga bertambah karena dia melakukan lebih dari kewajibannya sebagai pegawai kantoran. Atau mungkin mengembangkan skill kita dalam bidang lain. Itu juga bisa menambah nilai kita di mata orang lain. Dalam kehidupan bersosialisasi pun sama. Jika kita berbuat suatu kebaikan pada orang lain walau itu hal kecil, itu bisa menjadi nilai tambah buat kita. Contohnya bantuin temen benerin komputernya. Mungkin kita niatnya cuma bantu temen, tapi sapa tau temen kita bilang ma temennya yang lain, trus temennya itu minta bantuan kita tapi karena ga kenal deket ma kita, dia ngasih duit buat kita. Trus dia ngomong ke temennya yang lain lagi. Trus semakin menyebar info kalo kita jago benerin komputer. Kan itu jadi nilai tambah buat kita yang bisa nambah penghasilan juga.
Mungkin ada yang mikir gini, "Gue udah sering berbuat baik, tapi kok hidup gue masih gini-gini aja?". Tenang bro, Tuhan itu ga tidur. Dia pasti punya rencana buat kita. Jika kita setia pada kebaikan-kebaikan kecil yang kita lakukan, Tuhan pasti akan membalas dengan kebaikan yang lebih besar buat kita. Berbuat baik itu nggak ada ruginya kok.
Sekarang kita bandingin dengan tukang parkir tipe kedua. Tukang parkir tipe terserah-lo-repot-parkir-yang-penting-lo-bayar-parkir-ma-gue. Jangankan punya nilai tambah, bahkan dia nggak melakukan apa yang seharusnya jadi tugasnya. Tapi giliran minta bayar paling rajin. Gue bilang dia nggak punya nilai tambah, tapi malah minus. Coba aja misalnya kita jadi pegawai, tapi kerja nggak pernah beres. Apakah mungkin atasan kita bakalan naikin gaji kita? Yang ada malah dipotong gaji atau PHK sekalian. Kalo kita udah nggak punya dedikasi dalam hal-hal kecil yang harusnya udah jadi kewajiban kita, gimana kita bisa diberi tanggung jawab dan penghasilan yang lebih besar?
Jadi mulai sekarang mari kita intropeksi diri kita. Apakah kita punya nilai tambah dalam diri kita? Jika belum, mari kita berusaha jadi manusia yang punya nilai tambah. Agar berkat rejeki kita pun bisa bertambah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar