Itu adalah sepenggal dialog dari sebuah film yang abis gue tonton. Judulnya PK, sebuah film India yang menurut gue unik. Banyak pelajaran yang bisa diambil, tapi ada juga hal-hal yang absurd. Yah, namanya juga film. Sebenernya gue ga begitu suka film India. Tapi ga tau kenapa gue tertarik sama ni film. Ceritanya unik, ada unsur komedinya dan menyindir kita sebagai umat beragama. Wajar kalo katanya film ini sampai diprotes oleh kalangan pemuka agama di India. Aamir Khan yang jadi peran utamanya juga cocok banget memerankan tokoh PK.
PK ini diceritakan sebagai alien yang datang ke bumi untuk penelitian. Walaupun dia alien, tapi penampilannya seperti manusia. Dia telanjang dan hanya memakai kalung yang berfungsi sebagai remote untuk memanggil pesawatnya. Tapi malang buat dia. Sesampainya di bumi, remotenya dicuri orang. Bukan, remotenya bukan kayak remote untuk alarm mobil, tapi berbentuk bulat gepeng berwarna hijau yang bercahaya. Lebih mirip batu akik besar yang lagi ngetren belakangan ini. Mungkin kalo PK mengetahui batu akik sedang tren di Indonesia, dia akan lebih memilih mendaratkan pesawatnya disini daripada di India, menjual remotenya dengan harga mahal, dan hidup bahagia selamanya.
Banyak hal lucu yang terjadi saat awal-awal dia nyampe di bumi. Dari bagaimana dia mendapatkan pakaian, belajar berbahasa, dan menyadari fungsi dari uang. Bayangkan saja, dia menggunakan pegangan tangan untuk mentransfer data dari pikirin orang ke pikirannya sendiri. Mirip kayak USB. Atau mungkin ini USB-nya Haji Lulung? Eh..
Untuk mendapatkan kembali remotenya yang dicuri, dia bertanya pada semua orang. Tapi nggak ada yang tau dan mereka menyarankan PK meminta petunjuk pada Tuhan. Disinilah konflik mulai terjadi. Sebagai sesosok alien yang nggak tau Tuhan itu siapa, dia mulai mencari sosok Tuhan dimana-mana. Bahkan dia menyebarkan poster kehilangan Tuhan. Karena banyak kepercayaan di bumi ini, sampai-sampai dia mengikuti semua ajaran agama, berharap dia bisa bertemu Tuhan. Tapi semua usahanya gagal karena dia salah dalam mengartikan konsep Tuhan itu seperti apa. Hingga akhirnya dia menemukan remotenya dibawa oleh seorang pemuka agama bernama Tapaswi. Tapaswi menggunakan remote itu untuk mengelabuhi pengikutnya guna memperkaya diri dengan mengatakan bahwa remote itu merupakan pecahan gendang Dewa Syiwa. PK berusaha membuktikan bahwa Tapaswi salah dan remote itu adalah miliknya. Kelanjutannya? Kalian nonton sendiri ya. He..he..
Hal menarik dari film ini adalah pandangan PK terhadap agama. Film ini terkesan mengajarkan faham agnostik teisme, dimana manusia percaya adanya Tuhan, namun tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun seperti yang diajarkan agama. Tapi di lain sisi film ini mengajarkan toleransi. Di sini point pentingnya. Bahwa menjugde orang berdasarkan agamanya tidak bisa sepenuhnya dibenarkan. Kita tidak bisa memvonis bahwa semua orang yang beragama A itu jahat, atau semua orang yang beragama B itu teroris, atau semua orang yang beragama C itu paling baik. Jika kita mau mendalami ajaran agama kita masing-masing, semua orang berpotensi menjadi baik karena pada dasarnya semua ajaran agama mengajarkan kebaikan. Kalo ada yang mengajarkan kejahatan, bisa dikatakan itu udah menyimpang. Hanya saja sebagian orang salah mengartikan sehingga malah menyakiti sesamanya manusia hanya karena berbeda.
Di samping itu film ini mengangkat cerita tentang seorang pemuka agama, yaitu Tapaswi, yang memanfatkan "gelarnya" sebagai pemuka agama untuk kepentingannya sendiri. Hal ini jika dilihat di kehidupan nyata sebenarnya banyak terjadi. Bukan hanya di bidang agama, faktanya banyak oknum yang berkedok agama, ras, atau suku tertentu yang memandang remeh sesamanya manusia hanya karena dia merasa sebagai mayoritas, merasa sebagai penguasa, atau merasa paling pintar dan kaya. Apakah ini yang diajarkan Tuhan dalam agama di bumi ini? Kalian bisa jawab sendiri. Menurut gue pribadi Tuhan itu mengajarkan kasih kepada sesama. Kita sama di hadapan Tuhan. Ego manusialah yang membuatnya merasa paling hebat. Jika dilihat di negara kita sendiri, kita adalah negara yang majemuk. Kita beragam budaya, ras, suku, agama, bahkan pandangan politik. Haruskah kita terpecah hanya karena kita berbeda? Sebenarnya jika kita mau sedikit menurunkan ego untuk saling menghormati, kita bisa bersatu membangun Indonesia ini. Perbedaan pendapat itu wajar, tapi itu bukan alasan untuk saling membenci kan?
Oke, itu mungkin sedikit pemikiran gue. Gue bukan orang yang pintar atau ahli agama. Gue cuma rindu kedamaian tercipta untuk umat manusia di seluruh muka bumi. Mungkin ada dari kalian yang nggak sependapat ma gue. Itu wajar kok. Gue juga bukan orang yang 100% benar. Tapi gue yakin, kalian juga pengen hidup tenang damai di bumi ini, atau minimal di Indonesia ini. Salam damai bro.. Peace..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar