Kamis, 26 Maret 2015

Pentingnya Sebuah Privasi

    Pagi ini gue lihat salah satu portal berita di internet. Di situ tertulis kalo Zayn Malik resmi keluar dari One Direction. Berita ini mengejutkan banyak pihak, khususnya Directioners garis keras. Mungkin mereka bakalan nangis tiga hari tiga malem bacanya. Setelah sempat absen di dua konser di Manila dan Jakarta akibat stres, akhirnya si Zayn menyatakan mundur dari 1D. Padahal dia lagi sukses-suksesnya lho. Tampan, kaya, terkenal, punya pacar cantik, tapi ada satu hal yang dia rindukan. PRIVASI!!

Zayn Malik

    Bagi sebagian orang, menjadi seorang artis adalah impian. Bisa terkenal dan banyak uang, pasti sangat menggiurkan. Tapi jadi artis kalo gue pikir ada bagian yang nggak enak juga. Hidup mereka tertekan. Penuh kepura-puraan. Kenapa begitu? Karena semua hal yang mereka lakukan hampir ga pernah luput dari pemberiaan media. Kenalan ma cewek, dikira pacaran, trus masuk infotainment. Cubit-cubitan mesra ma pacar, dikira penganiayaan, trus masuk berita kriminal. Bahkan ada jerawat nongol satu biji diwajahnya bakalan jadi pemberitaan serius di tabloid kesehatan. Sampai hal-hal paling privasi pun bakalan dicari tau. Akibatnya seorang artis harus tampil sempurna. Dia nggak bisa jadi dirinya sendiri. Salah dikit, karirnya bakalan hancur. Padahal ada kalanya dia pengen bebas. Pergi kemana-mana ga diikutin wartawan. Bisa hidup tenang dengan keluarganya. Bisa ngupil sembarangan tanpa ada yang komentar. Atau bisa nonton layar tancap di lapangan tanpa ada yang ganggu (tapi gue nggak yakin layar tancap tu masih ada. Itu hanya mitos di jaman serba gadget ini). Dan mungkin itulah hal yang dirindukan Zayn Malik. Nonton layar tancap. Eh..bukan, maksud gue hidup normal tanpa embel-embel keartisannya. Privasi itu mahal, bahkan seorang Zayn Malik pun rela mundur dari 1D demi privasi. Kalo udah gini, kalian masih berminat jadi artis? Ya masih lah!!
    Ngomongin privasi, ada juga berita tentang seorang Polantas yang menilang sopir Trans Jakarta gara-gara nyenggol seorang pengendara motor. Jadi ceritanya gini. Ada bapak-bapak yang mengendarai motor dan masuk menyerobot ke jalur busway. Tanpa sengaja, si bapak kesrempet bus Trans Jakarta. Si bapak nggak terima. Trus ada Polantas datang, yang disalahin sopir busnya. Nah, disini anehnya. Jalur busway kan emang jatahnya buat bus Trans Jakarta kan ya? Bisa dibilang itu daerah privasinya Trans Jakarta. Kenapa bapak itu main nyelonong aja masuk jalur busway? Kenapa malah sopir busnya yang kena tilang? Padahal jelas-jelas si bapak yang salah masuk jalur busway. Bukannya udah ada peraturan dan dendanya kalo ada kendaraan selain bus Trans Jakarta masuk jalur busway? Apalagi si bapak nggak pake helm lagi. Tambah lagi salahnya. Wajar kalo para penumpang ngamuk nyalahin si bapak pengendara motor. Mungkin pak polisinya masih memegang teguh budaya "Kalo ada kecelakaan, kendaraan yang lebih besar yang salah". Jadi misalnya pengendara motor mabok masuk kamp pelatihan militer trus nabrak tank yang lagi parkir, yang salah tanknya. Jalur busway itu dibuat biar ada transportasi umum yang lebih privasi sehingga nggak kena macet. Kalo masih ada yang masuk jalur selain busnya, trus apa bedanya coba? Saran gue buat si bapak, kalo mau masuk jalur busway, mending naik busnya aja pak. Murah kok.
    Semua orang punya privasi, bahkan benda mati kayak bus Trans Jakarta aja punya privasi. Sebaiknya kita nggak mengganggu privasi orang lain jika dia belum siap untuk berbagi. Kembalikan ke diri kita masing-masing. Apakah kita mau jika privasi kita diusik? Jika tidak, mari kita hormati juga privasi orang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar