"I don't have friends, I got family.."
Sepotong dialog dalam film Furious 7 ini begitu penuh makna. Kadang seorang teman atau sahabat yang udah deket banget bisa kita anggap sebagai saudara sendiri. Dan saat sosok "saudara" itu pergi, pasti meninggalkan kenangan yang mendalam dalam diri kita.
![]() |
| Furious 7 |
Gue punya beberapa sahabat yang bisa dibilang udah kayak keluarga. Jaman SMP dulu gue punya dua sohib yang deket banget sama gue, yang satu namanya Widhi, yang satunya lagi namanya Stefanus. Kami sekelas sejak kelas 1 sampe kelas 3. Iya, jaman gue dulu nggak ada kelas 7 sampe kelas 9. Gue emang udah tua. Widhi itu anaknya tinggi, item, keriting tapi sipit. Mirip orang Cina yang kelamaan tinggal di Zimbabwe. Kalo Stefanus itu orangnya putih, jabrik dengan jidat yang lebar. Dia anaknya jenius. Mungkin karena itulah jidatnya lebar. Dulu kami sama-sama fans Liga Italia. Stefanus fans AC Milan, Widhi fans Perugia, dan gue fans Yamada (ini klub sepakbola kampung gue). Selain sering maen bareng, kami juga saling bahu-membahu bersaing dalam prestasi. Hasilnya kami bertiga menguasai 3 besar pas lulus SMP berkat kerjasama rajin belajar dan persaingan. Ha..ha..ha.. Sekarang gue udah jarang ketemu mereka. Kami udah berpencar cari rejeki masing-masing. Kadang masih ketemu setahun sekali. Tapi jika mengingat jaman SMP dulu, yang pertama gue inget pasti mereka.
Beralih ke jaman gue STM, gue punya banyak sohib. Tapi yang paling sering ngumpul adalah geng gue jaman kelas 2. Geng ini dinamakan geng "Jembus Wedhut". Gue harap kalian nggak keseleo lidah pas baca tulisannya. Soalnya kalo meleset dikit, persepsinya bisa beda ntar. Sama seperti kisah sebelumnya, kami berpisah setelah lulus. Ada yang di Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, Balikpapan, bahkan ada yang dinas di Wamena juga. Tapi kami masih sering ngumpul pas musim liburan atau kalo ada salah satu temen nikah. Beberapa hari kemarin semua dikumpulin di sebuah grup BBM. Dan mereka belum berubah. Mereka masih gila seperti dulu. Walaupun udah punya anak istri, udah ada yang jadi bos, tetep aja kelakuannya masih kayak anak kecil. Saling hujat, ejek, cela, dan hina. Dulu waktu sekolah malah sering manggil pakai nama bokap. Oh iya, ada seorang temen yang paling sering dicela. Sebenernya dia itu bisa dibilang pemimpin geng Jembus Wedhut. Tapi kedudukan itu nggak buat dia lolos dari berbagai celaan. Namanya Antono, tapi biasa dipanggil Boze, karena dia emang bosnya. Maaf bos, kami tetep respect sama lo kok. Peace..
![]() |
| Beberapa personel Jembus Wedhut |
![]() |
| Boze Antono |
Jaman gue kuliah, sohib-sohib deket gue tergabung dalam geng Ijo. Kenapa namanya geng Ijo? Gue juga nggak tau. Tau-tau udah gitu aja sebutannya. Kami sering hangout bareng, maen bareng, dan setahun sekali kami ada agenda untuk berbagi dengan sesama. Kami masih sering kumpul sampe sekarang. Masih sering saling cela juga. Tapi nggak pernah ada yang marah, karena kamu tau batas-batas untuk saling mencela.
![]() |
| Geng Ijo |
Mengapa sahabat bisa menjadi keluarga bagi kita? Karena mereka yang sering kita temui. Di sekolah, di kampus, lagi maen, atau bahkan saat sedang chatting atau di social media. Umur yang nggak beda jauh mungkin juga jadi faktor yang menyebabkan itu. Misalnya kalian punya adek, dan umurnya beda agak jauh, pasti kalian lebih suka ngumpul bareng temen dibanding sama adek sendiri. Lebih nyambung. Ada faktor lain yang buat gue menganggap sahabat gue adalah keluarga. Gue anak perantauan, dan sahabat-sahabat gue lah yang ada di dekat gue. Jadi mereka lah keluarga kedua gue.
Keluarga emang orang-orang yang utama dalam hidup gue, tapi dengan adanya sahabat, hidup gue semakin berwarna. Untuk itulah gue pengen warna itu hadir dalam hal yang utama dalam hidup gue. Seperti saat Dominic Toretto berpisah dengan Brian O'Conner di akhir film, dia berkata :
"I used to say I live my life a quarter mile at a time and I think
that's why we were brothers - because you did too. No matter where you are,
whether it's a quarter mile away or half way across the world. The most
important thing in life will always be the people in this room, right here,
right now. Salute mi familia. You'll always be with me. And you'll always be my
brother."




Tidak ada komentar:
Posting Komentar