Kamis, 21 Mei 2015

Budaya, Sesuatu yang Mulai Ditinggalkan

    Kemarin gue pergi ke Jogja untuk urusan kerjaan. Gue pergi ke salah satu kampus terbesar di kota Jogja. Ya, gue ke UGM. Selama ini selain dikenal sebagai kota pelajar, Jogja juga dikenal sebagai kota budaya. Kota yang masih memegang teguh adat budaya dari para pendahulunya.Tapi gue sempat sedikit heran. Kebanyakan para mahasiswa disana jarang ada yang menggunakan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan temannya. Padahal setau gue, orang Jogja masih banyak yang menggunakan bahasa Jawa yang halus. Kalo orang Jawa nyebutnya bahasa "kromo inggil". Tapi gue juga mikir, mungkin nggak semua orang disana adalah orang Jawa, jadi wajar mereka nggak pake bahasa Jawa.


    Nah, waktu balik ke Semarang, gue sempat mampir ke sebuah warung angkringan di daerah Ambarawa. Sambil menikmati teh manis panas dan beberapa jajanan yang ada, gue dan temen gue istirahat sebentar di warung itu. Setelah cukup melepas lelah, temen gue mau membayar jajanan yang kami nikmati tadi.


    "Mas, teh angete kalih, gorengane sekawan" (Mas, teh hangat dua, gorengannya empat).

    Tapi tiba-tiba si mas penjual angkringan pun bertanya.

    "Maaf mas, sekawan itu tiga atau lima ya?"

    Oke, sampai disini kami masih sedikit maklum. Kami mikir mungkin si mas ini adalah perantauan dari luar kota yang jual angkringan disini. Setelah temen gue jelasin lagi, akhirnya si mas ngerti dan menghitung total pembayaran. Saat si mas ngambil kembalian, iseng temen gue nanya. 

    "Masnya asli mana mas?"

    Dengan malu si mas jawab.

    "Saya asli sini kok mas, tapi kalo bahasa kromo tentang angka saya nggak begitu ngerti"

    Gubrak!! WTF!! Dia asli Jawa tapi nggak ngerti bahasa Jawa? Kami pun meninggalkan angkringan tersebut dengan pertanyaan besar. Apakah separah itu generasi muda sekarang hingga melupakan budayanya? Padahal untuk orang Jawa, bahasa "kromo" itu begitu penting, Bagi yang belum tau, bahasa kromo digunakan bagi orang yang lebih muda untuk berbicara kepada orang yang lebih tua atau lebih dihormati. Kosakata bahasa kromo memang banyak, bertingkat, dan rumit. Namun hampir semua orang Jawa, dari kecil pasti diajarin bahasa kromo tentang angka. Simplenya gini deh, kalo kalian belajar bahasa Inggris, kalian pasti mendapatkan pelajaran tentang angka di awal sebelum ke materi yang lebih rumit lagi. Di kebudayaan Jawa pun sama. Pelajaran tentang bahasa kromo angka pasti sudah ditanamkan sejak kami masih kecil. Jadi agak aneh jika ada orang Jawa yang lebih mengenal one, two, three, four, five dibanding setunggal, kalih, tigo, sekawan, gangsal.
    Kalo gue lihat, generasi sekarang memang mulai meninggkalkan budaya lokal asli Indonesia. Sebagai contoh:
    Lebih banyak mana anak muda yang nonton bioskop dibanding yang nonton pertunjukan reog atau wayang kulit? 
    Lebih banyak mana anak muda yang makan di restoran fast food dibanding yang makan di restoran masakan Indonesia? 
    Lebih banyak mana anak muda yang nongkrong di mall dibanding yang pergi ke museum budaya?
  Lebih banyak mana anak muda yang hobi menari break dance dibanding yang menekuni tari tradisional?
    Lebih banyak mana anak muda yang pake hot pants dibanding yang pake batik?
   Kalian bisa nilai sendiri. Faktanya, anak muda sekarang memang terkesan nggak tertarik dengan budaya lokal. Tapi uniknya, jika ada budaya kita yang diklaim pihak asing, kita serempak protes. Seakan-akan kita punya jiwa nasionalisme tinggi. Tapi kalo disuruh untuk melestarikan budaya tersebut, kita seakan-akan enggan melakukannya. Aneh kan? Apakah budaya kita harus diklaim negara lain dulu baru kita mau peduli? 
    Berikut ini ada video mahasiswa Australia yang buat tugas akhir berupa film pendek dengan bahasa Jawa. 

    Walaupun kadang ada pengucapan yang terkesan janggal, gue salut pada mereka. Gue sebagai orang Jawa malu nonton video ini. Dulu gue pernah dengar ada wacana pengghapusan mata pelajaran bahasa Jawa di sekolah. Nggak tau udah terealisasi atau belum, tapi gue miris mendengarnya. Negara lain dengan serius mempelajari bahasa Jawa, sedangkan disini malah mau dihilangkan.
    Gue bukan penggiat budaya. Bukan juga orang yang pandai tentang budaya. Tapi gue belajar untuk menghargai budaya gue. Budaya yang telah diwariskan untuk selalu dilestarikan sebagai identitas bangsa ini.

PS : Bagi yang bisa baca tulisan ini, berarti kalian Jawa tulen. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar