Seorang ibu dibawa ke sebuah Rumah Sakit Jiwa. Dia diantar oleh suami dan anaknya. Saat sampai di rumah sakit itu, si ibu meronta dan berteriak,”Lepaskan saya!! Saya tidak gila!! Suami dan anak saya yang gila!!” Sang suami dan anaknya hanya bisa menangis melihat itu. Para petugas memegang si ibu dan menyuntikkan obat bius agar si ibu tenang. Bayangkan jika si ibu datang ke rumah sakit itu dengan tenang, trus senyum ke petugasnya, trus bilang gini, “Saya gila pak, tolong rawat saya.” Pasti ntar para petugas langsung mikir, “Ini ibu gila beneran atau cuma akting sih?”. Secara nggak ada orang gila yang sadar bahwa dia gila. Kalo pun ada, itu hanya ada di sinetron.
Nah, sekarang gue mau nyinggung cerita lain. Bulan kemarin ada peristiwa di Jogja yang lumayan menghebohkan jagad sosmed. Itu lho, yang ada orang dengan gagah berani pantang menyerah menghadang rombongan moge yang dikawal polisi karena nerobos lampu merah. Rombongan moge merasa benar karena mereka dikawal polisi. Tapi mas-mas-yang-menghadang-ini (namanya mas Elanto kalo nggak salah) beranggapan bahwa seharusnya rombongan ini harus patuh aturan lalu lintas walaupun dikawal polisi. Soalnya rombongan ini bukan rombongan negara, atau sesuatu yang urgent seperti ambulans, pemadam kebakaran, mobil jenazah, dsb. Akibatnya, mas-mas-yang-menghadang-ini sempat dibentak-bentak sama bapak-bapak berkumis sangar (yang ini gue nggak tau namanya).
Setelah videonya tersebar di internet, pro dan kontra bermunculan. Tapi cenderung lebih banyak yang mendukung tindakan mas-mas-yang-menghadang-ini dan membully para rombongan moge. Ada yang bilang nggak taat aturan lah, pamer lah, arogan lah, pokoknya banyak banget deh celaannya. Sebagai orang yang kekinian dan melek internet, pastinya gue tau lah beritanya. #guesombong #abaikan. Tapi gue cuma senyum aja liat komen-komen yang dengan “lantangnya” membully. Ada yang bilang itu nggak taat aturan. Melanggar lalu lintas. Menyusahkan pengguna jalan lain.
Nah, sekarang gue mau nanya, orang-orang yang ngasih kritik itu emangnya udah taat aturan?
“Udah dong!!”
Yakin? Nggak pernah nerobos lampu merah? Udah bener bawa kendaraan? Nggak ngebut? Nggak nyerobot trotoar? Udah ngikutin marka dan rambu dengan tertib? SIMnya ujian dengan jujur atau cuma “nembak”?
“Eerrrr...ya kadang masih ngelanggar dikit sih.. He..he..”
Ada yang teriak lagi “ Tapi kan gue nggak punya kendaraan pribadi, gue naik angkutan umum, kalo angkutannya ngelanggar brarti bukan salah gue dong, bla..bla..bla..”
Buat yang nggak pake kendaraan, apakah kalian juga udah jadi pengguna jalan yang benar? Udah nyebrang di jalur yang disediakan? Udah berhentiin angkot di tempat yang benar?
“Ya, kadang-kadang sih..”
Nah, kalo kita belum bisa tertib juga, jangan langsung membully gitu deh. Ngasih saran boleh, tapi nggak perlu maki-maki dengan kasar. Disini gue nggak ngebelain para pemotor moge itu. Gue juga beranggapan mereka salah. Tapi gue nggak langsung membully dengan seenaknya, soalnya gue sadar, kadang gue juga khilaf sebagai pengguna jalan. Jujur, gue pernah ditilang dua kali gara-gara nerobos lampu merah dan melanggar marka jalan. #perbuatankriminal #janganditiru
Kadang dalam kehidupan kita banyak orang yang dengan lantang mengkritik suatu kejadian. Mereka merasa benar trus tanpa dosa membully yang dikritik. Tapi kalo gue liat, kebanyakan dari mereka hanya mengkritik tanpa paham dengan jelas duduk permasalahannya, kadang cuma ikut-ikutan, atau malah kadang mereka mengkritik hanya untuk membela diri dan menutupi kesalahannya. Dengan mereka bersikap seperti itu, mereka malah menunjukkan sifat asli mereka. Orang-orang macam ini biasanya cuma pengen diakui bahwa dia benar. Padahal bisa saja malah mereka yang salah. Orang akan lebih respect pada orang lain yang memberi kritik secara santun atau bahkan juga memberi solusi, bukan pada orang yang cuma asal kritik dan cenderung membully. Sama seperti ibu gila tadi. Saat dia meronta dan berteriak bahwa dia nggak gila, itu malah menunjukkan bahwa dia gila. Dia hanya ingin suatu pengakuan bahwa dia nggak gila tapi malah justru bertolak belakang dengan keadaannya. Sama seperti orang-orang munafik di luar sana yang enggan mengaku dia salah. Nggak mau dikritik. Merasa paling benar. Merasa paling suci. Banyak para pejabat yang lantang meneriakkan anti korupsi tapi ujungnya tersandung kasus korupsi. Miris memang, tapi itulah kenyataan di negeri ini.
Jadi, sebelum kita marah-marah nggak jelas, ngebully orang atau memvonis orang lain salah, coba kita liat diri kita sendiri. Sudah benarkah kita? Sudah lebih baikkah kita dibanding orang lain? Perbaiki diri kita sendiri sebelum mengkritik orang lain. Karena jika kita sudah intropeksi diri sendiri, kritikan kita akan lebih santun, membangun, dan berguna. Bukan omong kosong yang ada akibat emosi dan ego.
Ada yang teriak lagi “ Tapi kan gue nggak punya kendaraan pribadi, gue naik angkutan umum, kalo angkutannya ngelanggar brarti bukan salah gue dong, bla..bla..bla..”
Buat yang nggak pake kendaraan, apakah kalian juga udah jadi pengguna jalan yang benar? Udah nyebrang di jalur yang disediakan? Udah berhentiin angkot di tempat yang benar?
“Ya, kadang-kadang sih..”
Nah, kalo kita belum bisa tertib juga, jangan langsung membully gitu deh. Ngasih saran boleh, tapi nggak perlu maki-maki dengan kasar. Disini gue nggak ngebelain para pemotor moge itu. Gue juga beranggapan mereka salah. Tapi gue nggak langsung membully dengan seenaknya, soalnya gue sadar, kadang gue juga khilaf sebagai pengguna jalan. Jujur, gue pernah ditilang dua kali gara-gara nerobos lampu merah dan melanggar marka jalan. #perbuatankriminal #janganditiru
Kadang dalam kehidupan kita banyak orang yang dengan lantang mengkritik suatu kejadian. Mereka merasa benar trus tanpa dosa membully yang dikritik. Tapi kalo gue liat, kebanyakan dari mereka hanya mengkritik tanpa paham dengan jelas duduk permasalahannya, kadang cuma ikut-ikutan, atau malah kadang mereka mengkritik hanya untuk membela diri dan menutupi kesalahannya. Dengan mereka bersikap seperti itu, mereka malah menunjukkan sifat asli mereka. Orang-orang macam ini biasanya cuma pengen diakui bahwa dia benar. Padahal bisa saja malah mereka yang salah. Orang akan lebih respect pada orang lain yang memberi kritik secara santun atau bahkan juga memberi solusi, bukan pada orang yang cuma asal kritik dan cenderung membully. Sama seperti ibu gila tadi. Saat dia meronta dan berteriak bahwa dia nggak gila, itu malah menunjukkan bahwa dia gila. Dia hanya ingin suatu pengakuan bahwa dia nggak gila tapi malah justru bertolak belakang dengan keadaannya. Sama seperti orang-orang munafik di luar sana yang enggan mengaku dia salah. Nggak mau dikritik. Merasa paling benar. Merasa paling suci. Banyak para pejabat yang lantang meneriakkan anti korupsi tapi ujungnya tersandung kasus korupsi. Miris memang, tapi itulah kenyataan di negeri ini.
Jadi, sebelum kita marah-marah nggak jelas, ngebully orang atau memvonis orang lain salah, coba kita liat diri kita sendiri. Sudah benarkah kita? Sudah lebih baikkah kita dibanding orang lain? Perbaiki diri kita sendiri sebelum mengkritik orang lain. Karena jika kita sudah intropeksi diri sendiri, kritikan kita akan lebih santun, membangun, dan berguna. Bukan omong kosong yang ada akibat emosi dan ego.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar