Jumat, 02 Oktober 2015

Tentang Bersyukur



    Pernah nggak kalian liat kerajinan gerabah? Ada vas bunga, guci, poci teh, bahkan gentong. Setiap barang-barang itu punya kegunaan masing-masing. Vas bunga buat naruh bunga, guci buat pajangan, poci teh buat tempat bikin teh, dan gentong buat tempat air. Nggak usah dijelasin, nenek-nenek juga tau lah kegunaan barang-barang itu. Nah sekarang, pernah nggak kalian berpikir seandainya barang-barang itu bisa berpikir sendiri? Mungkin vas bunga akan sombong karena dia dapat peran yang enak, ditempatkan di tempat yang nyaman, harum karena sebagai tempat bunga, dan jadi pusat perhatian. Sedangkan poci teh mungkin mengeluh karena diisi air panas dan harus melayani beberapa cangkir yang minta diisi. Lalu gimana dengan gentong yang cuma jadi tempat air, diletakkan di dapur atau kamar mandi, di tempat yang lembab dan jarang dilihat orang. Mungkin gentong akan minder karena perannya dan bentuknya yang gendut. Yah, setiap barang-barang itu punya peran masing-masing. Saat dibuat, sang pengrajin gerabah sudah mempunyai maksud dalam membuat karyanya. Walaupun punya fungsi yang berbeda, tapi proses pembuatannya sama. Dibuat dari tanah liat, dibentuk, kemudian dibakar hingga keras.

    Analoginya sama dengan manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan maksud yang berbeda-beda. Ada yang diciptakan jadi direktur, jadi karyawan, jadi kuli bangunan, jadi tukang parkir, jadi artis, dsb. Prosesnya juga sama, manusia dibuat dari tanah, dibentuk, dan “dibakar” dalam konteks diuji hingga siap secara mental. Coba kalian bayangkan kalo semua orang jadi direktur, trus siapa yang bakal kerja? Kalo semua orang jadi tukang parkir, trus yang mau diparkirin kendaraannya siapa? Kalo semua orang jadi presiden, trus yang mau dipimpin siapa? Manusia punya peran masing-masing. Punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tuhan punya rencana sendiri atas hidup kita. Sama seperti kerajinan tadi. Kalo seumpama si pengrajin membuat vas bunga semua, trus yang buat tempat air di dapur siapa? Vas bunga nggak punya bakat buat jadi penampungan air dalam jumlah besar.
    Semalem gue ketemu sama salah satu bokapnya temen gue. Namanya Pak Sugeng Pranotodewo. Keren ya namanya? Dia cerita kalo ada temennya yang ganteng, tapi minder kalo deketin cewek. Trus ada lagi temennya yang wajahnya pas-pasan, tapi kalo masalah PDKT ma cewek paling juara. Dari cerita itu gue belajar satu hal. Kita nggak perlu minder akan kekurangan diri kita. Cukup maksimalkan apa yang kita punya. Contohlah mas-mas-yang-berwajah-kurang-tampan di cerita tadi. Dia nggak ganteng, tapi dia bisa memaksimalkan potensi dirinya untuk PDKT cewek. Trus kenapa mas-mas yang ganteng yang punya potensi wajah lebih bagus harus minder? Sama dengan kerajinan gerabah lagi. Gentong emang gendut, nggak populer, nggak keren. Tapi kalo orang disuruh milih antara vas bunga dan gentong menurut fungsinya, gue yakin banyak yang milih gentong. Gentong lebih berguna dalam keseharian kehidupan kita dibanding vas bunga yang hanya buat pajangan.
    Intinya, mari kita lebih banyak bersyukur akan hidup kita. Berusaha untuk hidup yang lebih baik itu wajib, tapi jangan lupa bersyukur akan apa yang kita dapat sekarang. Saat kita selalu melihat ke atas, kita nggak akan pernah puas. Sekali-kali lihatlah ke bawah, agar kita bisa belajar bersyukur. Kalo kalian cuma punya motor sedangkan gebetan kalian lebih milih yang naik mobil, jangan minder. Kalo tampang kalian biasa saja sedangkan gebetan kalian milih yang lebih cakep, jangan minder. Kalo kalian hanya karyawan biasa sedangkan gebetan kalian lebih milih seorang maager, jangan minder. Tetap bersyukur dengan keadaan kalian dan yakin kalian akan mendapatkan yang lebih baik. Vas bunga dengan kemewahannya juga nggak selalu diisi bunga asli. Kadang hanya diisi bunga plastik yang palsu. Sama dengan orang-orang yang hidup hanya berdasar kemewahan juga kadang hanya mendapat cinta yang palsu. Berbeda dengan gentong, rasanya agak janggal jika pemiliknya mengisinya dengan air kotor. Gentong akan diisi dengan air yang bersih. Jika kalian merasa seperti gentong yang mungkin nggak famous, yakinlah bahwa Tuhan sudah menyediakan “air bersih” yang akan tulus mencintai kalian dengan segala keadaan kalian saat ini. Indeed.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar