Selasa, 14 Juli 2015

Cinta Dalam Perbedaan, Mungkinkah?

...Kita adalah sepasang sepatu
Selalu bersama tak bisa bersatu...

     Joseph dan Aisyah adalah teman semasa SMA. Setelah lama dekat, mereka akhirnya jadian. Mereka punya latar belakang yang berbeda dan saling melengkapi. Joseph adalah seorang aktivis gereja yang pintar namun sedikit pemalu. Sedangkan Aisyah adalah seorang wakil ketua majelis taklim yang supel dan periang. Yah, mereka memang berbeda kepercayaan. Dan itu tidak menghalangi kebersamaan mereka. Namun sedikit demi sedikit masalah mulai muncul. Pandangan skeptis orang di sekitar, tentangan keluarga, hingga godaan orang ketiga datang menguji kebersamaan mereka. Namun dengan keteguhan hati, mereka dapat melalui semua itu. Orang-orang mulai bisa menerima hubungan mereka. Keluarga akhirnya mendukung juga. Dan karena mereka semakin dekat, orang ketiga pun enggan mengganggu mereka. Hingga akhirnya sudah hampir 10 tahun mereka berpacaran dan berencana melanjutkan hubungan mereka ke jenjang yang lebih jauh. Mereka ingin menikah. Di sinilah masalah yang lebih pelik terjadi. Walaupun orang tua sudah merestui, namun mereka kesulitan untuk melakukan pernikahan. Jika mereka ingin bersatu, maka salah satu harus mengalah. Mereka memang saling mencintai, namun mereka pun tidak bisa meninggalkan kepercayaan mereka. Mereka beberapa kali putus nyambung karena hal ini. Namun kisah mereka ibarat menonton sebuah film atau membaca buku novel. Berapa kalipun mengulang menonton atau membaca, ending yang didapat akan sama saja. Sampai akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah walau berat. Dan 10 tahun hubungan mereka berakhir. Nah, siapa yang salah kalau udah begini? Mari kita renungkan..


     Menurut gue pribadi, dalam suatu agama, setiap perintah dan aturan adalah mutlak hukumnya. Tuhan adalah sempurna, oleh sebab itu kita sebagai umatnya pun harus mengikuti ajarannya sesempurna mungkin agar lebih dekat dengan-Nya. Kita wajib menjalani setiap perintah Tuhan tanpa ada cela, karena setiap penyimpangan adalah dosa. Bagaimana dengan kasus di atas? Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Jika melihat pada peraturan agama, ada beberapa hal yang ditekankan.

  1. Dalam Surat Al Maidah(5):5 dikatakan :
    “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.”
    Dalam konteks ini lelaki Muslim diperbolehkan menikah dengan non-Muslim yang merupakan ahli kitab (Agama Samawi), yaitu kitab sebelum Al Quran. Dalam hal ini para ulama mengakui kitab Injil dan Taurat yang merupakan dasar dari agama Kristen dan Yahudi.
  2. Dalam surat Al Baqarah(2):221 tertulis :
    "...Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman..."
    Dalam konteks ini, wanita Muslim dilarang menikah dengan lelaki non-Muslim. Bagaimana jika pernikahan dilakukan dengan cara Islam? Bukankah berarti saat itu calon mempelai lelaki sudah mengucap Syahadat dan menjadi Muslim? Apakah itu sah? Mungkin itu yang belum gue tau jawabannya.
  3. Kemudian dari pandangan Kristen, dalam 2 Korintus 6:14 mengatakan "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?"
    Konteks ini pun sama. Seorang Kristen dianjurkan tidak menikah dengan orang non-Kristen karena akan menghadapi perbedaan mendasar pada hidup mereka.
     Intinya, dalam hukum kedua agama tersebut, pernikahan mereka adalah suatu yang mustahil. Selain dari hukum di atas, masih ada beberapa hal yang mungkin akan mereka hadapi seperti : bagaimana anak mereka kelak? Bagaimana tata cara pernikahan yang dipakai? Atau bagaimana cara mereka saling mendukung jika dasar prinsip mereka sudah berbeda? Mungkin masih banyak pertanyaan lain yang akan mereka temui jika menikah nanti.


     Sekarang gue mau bahas dari sudut pandang non agama. Apakah perasaan mereka salah? Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan perasaan. Dan salah satu perasaan itu adalah cinta. Jadi menurut gue, jika seseorang mencintai orang lain, walaupun berbeda agama, itu bukan suatu kesalahan. Cinta bersifat universal. Semua manusia berhak untuk mencintai atau dicintai. Bahkan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan pun berhak merasakan cinta. Terus, bagaimana jika Tuhan menjodohkan kita dengan orang yang berbeda agama dengan kita? Apakah itu juga haram? Who knows.. Gue hanya manusia yang nggak tau rahasia Tuhan. Tuhan punya rencana dalam setiap hidup manusia.
     Gue mau cerita, dulu bapak dan ibu gue juga menikah dengan agama yang berbeda. Nggak ada yang memaksa salah satu harus ikut yang lainnya. Konflik kecil mungkin ada, namun mereka bisa melewatinya sampai sekarang. Keluarga kami tetap harmonis. Dan gue ma adek gue pun bangga punya orang tua seperti mereka. Gue nggak tau ini benar atau salah, tapi jika Tuhan sudah menjodohkan, sesuatu hal yang mustahil pun pasti bisa terjadi. Gue inget kata-kata temen gue dulu, namanya Neni. Dia bilang gini :”Jodoh itu emang di tangan Tuhan, tapi kita lah yang harus mengusahakannya. Jika kalian berbeda namun itu memang jodoh dan kalian mengusahakannya, orang lain nggak akan bisa memisahkan kalian”. Mungkin jika dianalogikan seperti ini, jika kita mengusahakan jodoh kita walupun berbeda, akan seperti kita membaca buku Goosebumps karangan R.L. Stine dimana kita bisa memilih ending yang berbeda beda saat berulang kali membaca.
     Yah, itulah beberapa hal yang bisa gue share disini. Jika kalian masih bingung, berarti kita sama. Gue juga bingung. Di satu sisi memiliki rasa cinta adalah suatu hal yang normal dan tidak salah. Di sisi lain, agama juga merupakan suatu hal yang benar bagi para pemeluknya. Jadi apakah mencintai orang yang berbeda itu salah? Hanya Tuhan yang tahu.

...Cinta memang banyak bentuknya
Mungkin tak semua bisa bersatu...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar